“Pst… mendekatlah sedikit, sayang… Malam ini, Ayah ingin menceritakan sebuah rahasia kecil dari kota kecil yang tenang bernama Elton. Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda bernama Maffario. Maffario punya kebiasaan yang sangat menyakitinya. Setiap kali sesuatu tidak berjalan seperti yang ia harapkan, sekecil apa pun itu, ia tidak berpikir, “Aku melakukan kesalahan.” Ia berpikir, “Aku ini orang gagal.” Dan setiap kali mengulanginya pada diri sendiri, kesalahan itu terasa semakin berat. Namun suatu hari, Maffario menemukan sebuah kalimat sederhana yang mengubah cara pandangnya terhadap kegagalan. Mau tahu apa kalimatnya? Merapatlah ke Ayah, nanti Ayah ceritakan.
Maffario tinggal di kota kecil Elton yang tenang. Sejak kecil, ia sangat menyukai makanan manis: kue cokelat, krim kocok, permen madu… Setiap kali mencium aroma manis, kakinya seolah melangkah sendiri ke sana. “Satu gigitan lagi saja,” katanya pada diri sendiri setiap hari. Lama-kelamaan, tubuhnya semakin berat. Saat berjalan, kedua kakinya saling bergesekan hingga terasa sakit. Setelah menaiki beberapa anak tangga saja, ia harus berhenti untuk mengatur napas. Namun bagian tersulit bukanlah tubuhnya. Melainkan cara orang lain memandangnya. Suatu hari, saat lomba lari di sekolah, Maffario memutuskan untuk ikut. Ia berlari sekuat tenaga, tetapi di tengah lintasan kakinya tidak sanggup lagi dan ia harus berhenti. Beberapa anak di pinggir lintasan mulai tertawa. “Lihat si tank itu!” teriak seorang anak. “Kehabisan bensin!” Maffario menundukkan kepala, pipinya terasa panas. Kata-kata itu seperti batu-batu kecil yang dilemparkan ke hatinya: “Kamu tidak bisa.”
Namun Maffario punya sebuah rahasia. Diam-diam, ia menyukai seorang gadis bernama Erin. Ia tidak pernah bermimpi Erin akan tiba-tiba jatuh cinta padanya. Ia hanya menginginkan satu hal sederhana: suatu hari, saat mereka berpapasan di jalan, Erin tersenyum dan berkata, “Hai, Maffario.” Jadi, ia memutuskan untuk berubah. Ia memutuskan untuk menurunkan berat badan.
Pada hari pertama, Maffario mencoba berdiet. Ia melewatkan sarapan dan hampir tidak makan apa pun saat makan siang. Malam itu, ia berdiri di dapur, menatap kue di atas meja dengan kedua tangan terkepal. “Tidak. Aku tidak akan memakannya.” Namun saat tengah malam tiba, perutnya mulai berbunyi. “Kruuuk… kruuuk…” Rasa lapar itu seperti hewan liar yang terperangkap di dalam dirinya, terus mendesak dan memohon untuk diberi makan. Akhirnya, ia membuka kulkas. Satu gigitan. Dua gigitan. Tiga gigitan. Sebelum menyadari apa yang terjadi, seluruh kue itu sudah habis. Maffario duduk di lantai dapur yang dingin, dengan jari-jari penuh krim dan mata yang dipenuhi air mata. “Aku sudah tahu,” bisiknya. “Bahkan ini saja aku tidak bisa. Aku ini orang gagal.”
Keesokan harinya, ia memutuskan untuk berolahraga. Ia memakai sepatu larinya dan pergi ke jalur di tepi sungai. Putaran pertama, ia bertahan. Putaran kedua, ia memaksakan diri lebih keras lagi. Namun tubuhnya terasa terlalu berat. Jantungnya berdebar kencang dan paru-parunya terasa terbakar. Pada putaran ketiga, kakinya tak kuat lagi dan ia jatuh di rumput. Ia menatap langit yang kosong, dan suara yang begitu dikenalnya kembali terdengar di kepalanya: “Lihat? Kamu gagal lagi.” Selama beberapa minggu berikutnya, Maffario mencoba berbagai cara. Ia bahkan membeli pil penurun berat badan yang menjanjikan hasil cepat. Lama-kelamaan, ia berhenti mencoba.
Suatu sore yang tenang, Maffario berjalan ke tepi sungai. Di sana duduk seorang pemancing tua bernama Victor, yang setiap hari datang ke sungai membawa jorannya. Maffario menyadari sesuatu yang aneh. Victor tidak selalu mendapatkan ikan. Kadang ia duduk di sana sepanjang hari dan embernya tetap kosong. Kadang dua hari berlalu tanpa seekor ikan pun tertangkap. Namun Victor tidak pernah marah atau mengeluh. Ia hanya berpindah tempat, mengganti umpan, lalu mencoba lagi.
Maffario penasaran. “Kakek Victor,” tanyanya, “Kakek sering tidak mendapatkan ikan. Kenapa Kakek tidak sedih?” Victor tersenyum. “Gagal? Kakek tidak merasa gagal.” Maffario menatapnya dengan bingung. “Lalu apa yang terjadi?” Victor memandang sungai dan perlahan mengangkat jorannya. “Sungai sedang memberiku informasi. Mungkin hari ini tempat ini bukan tempat yang tepat. Mungkin Kakek perlu umpan yang berbeda.” Ia tersenyum. “Sungai tidak sedang mengatakan bahwa Kakek pemancing yang buruk. Sungai hanya menunjukkan apa yang bisa Kakek coba selanjutnya.”
Kata-kata itu terus terngiang di pikiran Maffario. Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri: “Bagaimana kalau kesalahanku juga sedang mencoba memberitahuku sesuatu?” Mungkin dietnya yang gagal hanya menunjukkan bahwa menahan lapar tidak berhasil. Mungkin tubuhnya yang lelah hanya memintanya untuk pelan-pelan saja. Kesalahannya bukan lagi musuh. Kesalahan itu adalah pesan.
Malam itu, Maffario mengambil sebuah buku catatan. Di bagian atas halaman, ia menulis: “Apa yang Kesalahanku Ajarkan Kepadaku.” Pelajaran pertama: “Menahan lapar tidak berhasil.” Pelajaran kedua: “Menjadi lebih kuat sedikit demi sedikit.”
Kali ini, ia berhenti melawan dirinya sendiri. Ia mulai belajar tentang makanan. Ia menemukan bahwa beberapa makanan manis membuatnya senang sesaat, tetapi tak lama kemudian rasa lapar datang lagi. Ia belajar makanan apa yang memberi tubuhnya energi lebih lama. Setiap hari, ia berjalan sedikit. Setiap minggu, ia berlari sedikit lebih jauh. Langkah demi langkah, ia mulai berubah.
Beberapa bulan kemudian, Maffario mengenakan kemeja baru. Ia masih bukan orang paling kurus di kota, dan perutnya masih sedikit bulat. Namun bahunya lebih tegap, tatapannya lebih cerah, dan ia tidak ingin bersembunyi lagi. Saat Erin berjalan melewatinya di jalan berbatu, Erin tersenyum. “Selamat pagi, Maffario.” Pipi Maffario memerah. Diperhatikan oleh seseorang yang ia sukai terasa menyenangkan. Namun hadiah terbesar bukanlah senyum Erin. Hadiah terbesar adalah, untuk pertama kalinya, Maffario merasa bangga pada dirinya sendiri.
Ingat ya, sayang… Ketika sesuatu tidak berhasil, itu bukan berarti kamu orang gagal. Terkadang, itu hanyalah sebuah pesan kecil yang berkata: “Coba dengan cara lain.” Dan itulah rahasia Maffario. Selamat tidur, sayang. Pejamkan matamu, tidur yang nyenyak, dan mimpi indah ya.”