The Rule Nobody Followed

“Sini, mendekat sedikit, sayang. Biar Papa selimuti kamu biar hangat, ya. Malam ini, Papa mau menceritakan sebuah kisah tentang tempat bernama Green Valley. Dahulu sekali, Green Valley memiliki padang rumput paling indah yang pernah dilihat siapa pun. Namun hanya beberapa tahun kemudian, padang rumput yang sama berubah menjadi hamparan luas tanah abu-abu kekuningan yang gersang. Seekor anak domba menundukkan kepalanya dan mencari cukup lama di tanah yang hampir gundul, sampai akhirnya hanya menemukan beberapa helai rumput terakhir. Penduduk desa berdiri diam di atas bukit. Bagaimana mungkin padang rumput yang dulu begitu indah bisa berakhir seperti ini?

Untuk memahami apa yang terjadi, kita harus kembali beberapa tahun ke belakang. Saat itu, setiap musim semi membuat Green Valley kembali dipenuhi warna hijau yang cerah. Anak-anak domba berlarian di antara rumput, dan penduduk desa hidup dari domba-domba mereka dan wol yang dihasilkan. Ada seorang pria bernama David yang menjaga padang rumput itu. David mengenal tanah itu lebih baik daripada siapa pun. Ia tahu rumput akan tumbuh kembali setiap tahun. Tapi ia juga tahu bahwa jika jumlah domba terlalu banyak, mereka akan memakannya lebih cepat daripada rumput itu bisa tumbuh kembali. Jadi David mengumpulkan seluruh penduduk desa dan membuat satu aturan: setiap keluarga boleh memelihara paling banyak sepuluh ekor domba. Pada awalnya, semua orang menaati aturan itu. Sepuluh ekor domba untuk setiap keluarga. Domba-domba punya cukup makanan, dan padang rumput punya cukup waktu untuk pulih. Selama beberapa tahun, kehidupan di Green Valley berjalan tenang dan damai.

Lalu, pada suatu musim dingin, sesuatu terjadi. Seorang penduduk desa bernama Oliver sedang mengalami masa yang sulit. Anak laki-lakinya masih kecil dan hanya memiliki sepasang sepatu bot yang sudah sangat usang. Pada hari-hari yang sangat dingin, kakinya sering terasa sakit. Oliver tidak berhenti memikirkannya: “Kalau aku memelihara beberapa domba lagi dan menjual sedikit lebih banyak wol, mungkin aku bisa membelikan anakku sepasang sepatu bot baru yang hangat.” Ketika musim semi tiba, Oliver diam-diam menambahkan lima ekor domba ke dalam kawanannya. Suatu hari, David menyadarinya. Ia mengernyitkan dahi. “Oliver, kamu tahu aturan desa.” Oliver menundukkan kepala sejenak. Lalu ia memandang padang rumput luas yang terbentang di depan mereka dan berkata: “David, apa benar lima ekor domba lagi akan membuat perbedaan besar? Tapi untuk anakku, lima domba itu bisa berarti sepasang sepatu bot hangat untuk musim dingin nanti.” David tidak langsung menjawab. Ia tahu Oliver bukan orang jahat. Oliver hanya ingin memberi anaknya kehidupan yang sedikit lebih baik. Akhirnya, David mengizinkannya tetap memelihara lima domba tambahan itu.

Tapi David sama sekali tidak menyangka betapa cepat kabar itu akan menyebar ke seluruh desa. Tak lama kemudian, keluarga-keluarga lain juga mulai menambah jumlah domba mereka. “Oliver punya lima belas. Kenapa aku harus berhenti di sepuluh?” “Kalau semua orang punya lebih banyak dan aku tidak, berarti aku yang rugi.” Sedikit demi sedikit, beberapa orang bahkan mulai menyembunyikan domba tambahan mereka atau menunggu sampai malam untuk membawa domba-domba itu merumput diam-diam. Semua orang mengatakan hal yang sama kepada diri mereka sendiri: “Cuma tambah sedikit kok.” “Semua orang juga begitu.” Tak seorang pun merasa sedang merusak padang rumput. Tapi semua “beberapa ekor tambahan” itu, jika digabungkan, akhirnya menjadi terlalu banyak. Dan tak lama kemudian, semuanya berubah menjadi bencana.

Dua tahun kemudian, jumlah domba semakin banyak… sementara rumput semakin sedikit. Awalnya, hanya beberapa bagian yang mulai menipis. Lalu area-area yang lebih luas menjadi benar-benar gundul. Tak lama kemudian, penduduk desa mulai bertengkar memperebutkan tempat-tempat terakhir yang masih memiliki cukup rumput untuk memberi makan kawanan mereka. David berdiri di atas bukit sambil memandangi keadaan padang rumput itu. Ia begitu khawatir sampai hampir tidak bisa tidur. Keesokan paginya, ia mengumpulkan semua orang. “Lihat padang rumput kita! Kalau begini terus, sebentar lagi kita bahkan tidak bisa memberi makan domba-domba kita!” Semua orang terdiam. Lalu seseorang berteriak: “David, kamu terus bicara soal orang-orang yang melanggar aturan… tapi bagaimana dengan keluargamu sendiri?” Semua orang menoleh kepadanya. David terpaku.

Ketika pulang, ia pergi memeriksa bagian belakang tumpukan jerami. Di sana, tersembunyi dari pandangan, ada tiga anak domba kecil. Anaknya sendiri diam-diam memelihara mereka. Wajah David memerah karena marah. “Kamu tahu aturan desa!” Anaknya menundukkan kepala dan bertanya pelan: “Kalau begitu, kenapa Paman Oliver boleh punya lebih banyak domba? Kenapa keluarga lain boleh? Kenapa cuma kita yang tidak boleh?” David tidak tahu harus menjawab apa. Malam itu, ia duduk di samping lampu minyaknya dan berpikir sangat, sangat lama.

Pagi-pagi sekali keesokan harinya, David tidak membuat aturan baru. Sebaliknya, ia membawa patok-patok kayu dan tali ke padang rumput. Ia membagi padang rumput yang luas itu menjadi petak-petak yang lebih kecil, lalu memberikan satu petak kepada setiap keluarga untuk mereka rawat. Oliver juga mendapat sepetak tanah untuk keluarganya. David berkata kepadanya: “Mulai hari ini, petak ini menjadi tanggung jawabmu. Domba-dombamu boleh merumput di sini, dan kamu bisa membantu rumput tumbuh dengan baik. Tapi kalau domba-dombamu memakan semuanya sampai tanahnya menjadi gundul, tahun depan kawananmu tidak akan punya apa-apa lagi untuk dimakan.” Oliver berdiri lama di samping petak rumput miliknya dan memandanginya. Sebelumnya, ia selalu berpikir: “Padang rumput ini begitu luas. Apa salahnya kalau domba-dombaku makan sedikit lebih banyak?” Tapi sekarang rasanya berbeda. Kalau ia tidak menjaga petak tanah itu dan rumputnya menghilang, musim dingin berikutnya keluarganya sendiri yang akan menderita.

Tahun demi tahun, warna hijau perlahan kembali ke bukit-bukit. Anak-anak domba kembali berlarian di padang rumput. Anak-anak bermain di bawah sinar matahari. Bertahun-tahun kemudian, seorang anak duduk di samping David dan bertanya: “Kakek, kenapa dulu orang-orang tidak bisa menjaga padang rumput, tapi setelah itu mereka bisa?” David memandang ladang-ladang di kejauhan dan tersenyum. “Karena dulu, setiap orang hanya memikirkan domba-domba mereka sendiri. Setelah itu, setiap keluarga punya sepetak kecil tanah yang benar-benar ingin mereka rawat.”

Angin sore berembus lembut melewati Green Valley. Dari kejauhan, seekor anak domba mengembik: “Mbee…” Rumput bergoyang pelan tertiup angin. Srek… srek… Persis seperti bertahun-tahun sebelumnya. Selamat malam, sayang. Tidur yang nyenyak dan mimpi indah, ya.”