Three Friends, Three Dreams

8

“Psst… sini sedikit lebih dekat, sayang… Malam ini, Ayah mau bercerita tentang mimpi. Dahulu sekali, di sebuah desa kecil bernama Desa Harapan, hiduplah tiga sahabat karib. Masing-masing menyimpan sebuah mimpi indah di dalam hati. Namun bertahun-tahun kemudian, hanya satu dari mereka yang benar-benar berhasil mewujudkan mimpi masa kecilnya. Kenapa? Nah… kisah kita dimulai saat mereka masih anak-anak.”

Di Desa Harapan, hiduplah tiga sahabat karib. Yang pertama bernama Eli. Eli memiliki tatapan lembut dan sangat menyayangi hewan. Suatu hari, ia menemukan seekor burung kecil di rerumputan dengan sayap yang terluka. Eli mengangkatnya perlahan dengan kedua tangan lalu berbisik, “Jangan takut. Aku akan membantumu.” Sejak hari itu, Eli bermimpi menjadi dokter hewan. Sahabat kedua bernama Theo. Ia suka duduk di tepi sungai kecil di desa, dengan buku catatan tua di pangkuannya, lalu mengisi halaman demi halaman dengan cerita. Theo bermimpi menjadi penulis. Yang ketiga bernama Max. Ia suka berdiri di atas bukit di luar desa. Setiap kali angin bertiup di sekitarnya, ia merentangkan kedua tangan dan membayangkan dirinya terbang tinggi di atas awan. Max bermimpi menjadi pilot. Ketiga sahabat itu sering duduk di bawah pohon ek tua sambil berbincang tentang cita-cita mereka. Mereka percaya pada satu hal sederhana: Kalau kita berusaha cukup keras, mimpi kita akan menjadi kenyataan.

Namun saat tumbuh dewasa, mereka menghadapi rintangan besar pertama dalam hidup. Ketiganya diterima di universitas di kota. Lalu mereka melihat betapa mahalnya biaya kuliah. Keluarga mereka bukan keluarga kaya. Orang tua mereka sudah bekerja keras setiap hari hanya untuk menyediakan makanan dan memastikan keluarga tetap punya tempat tinggal. Tiba-tiba, mimpi mereka terasa sangat jauh.

Suatu sore, ketiga sahabat itu kembali duduk di bawah pohon ek tua. Eli bicara lebih dulu. “Mungkin kita bisa menjual rumah dan memakai uangnya untuk membayar kuliah.” Namun begitu mengucapkannya, Eli terdiam. Rumah itu bukan sekadar kayu dan dinding. Di sanalah keluarganya makan bersama, adik-adiknya tidur, dan semua orang merasa aman serta hangat sepanjang musim dingin. Max memandang rumah kecilnya sendiri di kejauhan. Setelah lama terdiam, ia menggelengkan kepala. “Mimpi itu penting,” katanya pelan. “Tapi aku tidak bisa mengejar mimpiku dengan mengambil rumah keluargaku.” Tak lama kemudian, Max mendapat pekerjaan tetap di desa. Ia tidak pernah menjadi pilot.

Lalu Theo mendapat ide lain. “Kita bisa meminjam uang dari keluarga dan teman-teman.” Maka mereka pergi dari rumah ke rumah. Awalnya, orang-orang tersenyum dan menyambut mereka dengan ramah. Namun ketika mendengar kata pinjaman, wajah mereka berubah. Ada yang mengalihkan pandangan. Ada yang mencari alasan. Ada yang perlahan menutup pintu. Setelah kembali ditolak, Theo menundukkan kepala. “Mungkin beberapa mimpi memang terlalu mahal.” Malam itu, ia menutup buku catatan yang penuh cerita lalu menyimpannya jauh di dalam laci.

Namun Eli tidak sanggup melakukan hal yang sama. Malam itu, ia duduk sendirian di meja belajarnya. Di depannya ada dua lembar kertas. Cara pertama: menjual rumah. — Tidak. Cara kedua: meminjam uang. — Tidak berhasil. Eli menatap keduanya lama sekali. Lalu ia teringat sesuatu yang sering dikatakan ayahnya: “Kebanyakan masalah punya lebih dari satu jalan keluar. Kalau dua cara pertama tidak berhasil, cari cara ketiga.” Eli mengambil pena. Di bawah dua baris pertama, ia menulis: Apa cara ketiganya? Sesaat, ia tidak punya jawaban. Ia lelah. Ia takut. Ia bahkan mulai bertanya-tanya apakah Theo benar. Mungkin ia juga harus menyimpan mimpinya.

Namun keesokan paginya, Eli kembali mengambil pena. Pertama, ia menulis kepada universitas dan menjelaskan keadaannya. Universitas memberinya beasiswa sebagian. Itu membantu. Tapi belum cukup. Jadi Eli terus mencari. Ia mengajukan bantuan keuangan dan mendapat sedikit bantuan tambahan. Makin dekat. Tapi uangnya masih kurang.

Kemudian Eli teringat pada Pak David, orang terkaya di Desa Harapan. Semua orang mengenal Pak David. Tapi Pak David tidak mengenal Eli. Orang-orang memperingatkannya, “Dia tidak meminjamkan uang kepada orang yang tidak dikenal.” Meski begitu, Eli berjalan menuju rumah kayu besar milik Pak David. Ia berdiri cukup lama di depan pintu. Tangannya terangkat untuk mengetuk. Lalu berhenti. Bagaimana kalau Pak David berkata tidak? Eli menarik napas dalam-dalam. Dan tetap mengetuk.

Pak David membuka pintu dan mendengarkan Eli menjelaskan alasan kedatangannya. “Kenapa saya harus meminjamkan uang kepada seseorang yang bahkan tidak saya kenal?” tanyanya. Eli menunjukkan surat penerimaan universitas, dokumen beasiswa, dan semua rencana yang sudah ia siapkan. “Saya sudah berhasil mengumpulkan hampir semua uangnya sendiri,” kata Eli. “Saya hanya masih kekurangan sedikit. Kalau Bapak bersedia meminjamkan sisanya, saya akan mengembalikannya setelah lulus dan mulai bekerja. Dan kalau Bapak berkata tidak, saya akan terus mencari cara lain.”

Pak David memandang Eli dalam diam. Bertahun-tahun sebelumnya, ia juga pernah menghadapi masalah yang terasa mustahil. Akhirnya, ia mengangguk. “Baiklah. Saya akan meminjamkan uangnya. Kita tulis dengan jelas berapa jumlah yang kamu pinjam, dan ketika kamu mulai bekerja nanti, kamu harus mengembalikannya.” Lalu ia tersenyum. “Dan suatu hari nanti, kalau kamu mampu, berikan juga kesempatan kepada orang lain.”

Dengan beasiswa, bantuan keuangan, dan pinjaman dari Pak David, Eli akhirnya bisa kuliah. Bertahun-tahun kemudian, ia menjadi dokter hewan. Ia merawat anjing yang terluka, kuda yang ketakutan, burung-burung kecil dengan sayap patah, dan hewan-hewan yang pemiliknya hampir kehilangan harapan. Dan Eli mengembalikan seluruh uang yang pernah ia pinjam.

Setiap kali seseorang bertanya bagaimana ia berhasil melewati tahun-tahun sulit itu, Eli teringat pada dua rencana gagal di atas mejanya. Lalu ia tersenyum. “Kadang-kadang, kita tidak perlu menyerah. Kita hanya perlu mengajukan satu pertanyaan lagi: Apa cara ketiganya?”

Jadi, sayang… Kalau lain kali ada sesuatu yang terasa mustahil, ingatlah Eli. Apa cara ketiganya? Selamat malam, sayang. Pejamkan mata, tidur yang nyenyak, dan semoga mimpimu indah.